Awalnya adalah di Yerusalem, sebuah wilayah tempat turunnya para nabi, lalu berkumpul di Perancis, dan setelah ditumpas oleh Phillipe le bel (Phillipe IV, Raja Perancis) dan Paus Clement V, mereka (Knights Templar atau Freemasonry) menyebar di Eropa dengan dua wilayah yang dijadikan basis : Skotlandia yang kemudian bersatu dengan Kerajaan Inggris dan satunya lagi masih bergerak di Perancis. Dalam persembunyiannya di Skotlandia, para Mason berhasil diterima oleh kalangan istana. Sedangkan di Perancis, penerus templar ini membangun komunitas merdeka di selatan, di daerah Pyrennes yang sunyi. Di daerah Provence, Perancis, para Mason diduga kuat menjadikan daerah ini sebagai pusat kegiatan Kabbalisme yang paling terkemuka di Eropa. Jika di daerah-daerah lain tradisi Kabbalah hanya diturunkan secara lisan, maka di Provence, tradisi Kabbalah dibukukan dan dijadikan pegangan para Kabbalis.
Penumpasan templar di Perancis menyebabkan orang-orang Katolik Perancis membenci Komunitas Yahudi yang tinggal disana. Mereka bergerak sendiri-sendiri atau diorganisir dari Gereja dan juga Kerajaan menyerang orang-orang Yahudi Perancis. Banyak ancaman maupun surat kaleng yang menyatakan bahwa Sinagog kaum Yahudi akan diserang atau dibakar. Orang-orang Yahudi tersebut juga mendapatkan tekanan untuk meninggalkan keyakinan mereka dan dibaptis menjadi seorang Kristen yang taat sebagai bentuk penghapusan dosa-dosa mereka. Akibatnya banyak keluarga Yahudi Perancis yang meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat tinggal dan lingkungan yang relatif lebih aman.
Suasana yang mencekam ini membuat Rabi Shamur yang tinggal di kota Arles, Prancis, menulis surat kepada Pemimpin Tertinggi Kaum Yahudi di Konstantinopel. Dalam suratnya, Rabi Shamur meminta nasehat dan masukan berkenaan dengan situasi dan kondisi yang dialami komunitas Yahudi di Prancis yang terus-menerus ditindas Gereja dan Kerajaan. Shamur memaparkan bagaimana orang-orang Kristen Perancis yang tinggal di Arles, Aix, dan Marseilles mengancam sinagog-sinagog mereka. Surat dari Rabi Shamur dalam waktu yang tidak terlalu lama akhirnya dijawab oleh Pemimpi Tertinggi Yahudi Konstantinopel pada tanggal 24 Jui 1489. Sebuah surat jawaban yang kalimat per kalimatnya menjadi begitu terkenal karena dengan lugas mencerminkan strategi kaum Yahudi menundukkan Gereja dan juga dunia.
“Saudara-sadara, dengan rasa sedih pengaduan kalian kami pelajari. Derita nasib buruk yang kalian alami membuat kami ikut bersedih. Kalian mengadukan, bahwa Raja Prancis telah memaksa kalian memeluk agama Nasrani. Tetapi harus dingat, bahwa ajaran Musa harus tetap kalian pegang erat-erat dalam hati sanubari. Umat Kristen memerintahkan supaya kalian menyerahkan harta benda kalian. Laksanakanlah!. Selanjutnya didiklah putera-puteri kalian menjadi pedagang dan pengusaha yang tangguh, agar pelan-pelan bisa merebut kembali harta benda itu dari tangan mereka.
Kalian juga melaporkan, bahwa mereka mengancam keselamatan hidup kalian. Maka binalah putera-puteri kalian menjadi dokter, agar bisa membunuh orang-orang Kristen secara rahasia. Mereka menghancurkan tempat peribadatan kalian. Maka, didiklah putera-puteri kalian untuk menjadi pendeta, agar bisa menghancurkan gereja mereka dari dalam. Mereka menindas dengan melanggar hak dan nilai kemanusiaan. Maka didiklah putera-puteri kalian sebagai agen-agen propaganda dan penulis, agar bisa menyelusup ke berbagai jajaran pemerinahan. Dengan demikian, kalian akan bisa menundukkan orang Kristen dengan cengkeraman kuku-kuku kekuasaan internasional yang kalian kendalikan dari balik layar. Ini berarti pelampiasan dendam kesumat kalian terhadap mereka.”
(Sumber : William G. Car; Yahudi Menggenggam Dunia)
Setelah menerima surat itu, maka Rabi Shamur diam-diam melakukan sosialisasi ‘perintah Rabi Tertinggi Konstantinopel’ tersebut dan setelah itu banyak orang-orang Yahudi yang bersedia dibaptis dan memeluk agama Kristen. Mereka juga memasuki gereja dan bahkan beberapa tahun kemudian menjadi gembala sidang dari sejumlah gereja di Prancis. Kaum Yahudi, dan dengan sendirinya para Freemason, akhirnya memiliki ‘agama resmi’ atau ‘agama legal’ mereka yakni Kristen Katolik. Abad itu, siapa pun yang ingin bebas bergerak, ingin aman dalam hidupnya, tentunya di Eropa, maka ia haruslah menjadi seorang pengikut Gereja Katolik Roma. Maka, dengan alasan-alasan strategis demi mencapai tujuannya yang disembunyikan rapat-rapat, mereka kini mengenakan baju Gereja dan larut dalam komune masyarakat Eropa abad pertengahan yang dipenuhi histeria pergolakan dan keimanan.
Di dasar permukaan bumi yang paling dalam, sebuah keyakinan abadi tetap terpelihara. Dan mereka sangat yakin, suatu waktu keyakinan abadi ini akan muncul di permukaan dan meremukkan segala macam baju yang dikenakannya. Itulah masa dimana mereka merasa sudah sedemikian kuat, semua musuhnya sudah dilumpuhkan dan ditaklukkan. Suatu masa di mana segala kerahasiaan akan mereka singkap dan mereka akan tunjukkan pada dunia siapa diri mereka sebenarnya. Suatu hari yang pasti terjadi.
Judeo Christian atau Zionis Kristen
Secara hakikat, istilah ini mengacu pada keyakinan dan sikap keagamaan umat Kristen Amerika (dan juga Kristen Eropa serta sebagian besar dunia) yang memandang bahwa zionisme merupakan hal yang harus didukung secara penuh, tanpa syarat. Harus didukung walau kaum Zionis-Israel membunuhi dan membantai anak-anak tak berdosa. Sebaliknya, mereka akan merasa berdosa apabila tidak mendukung atau mengecam Zionis-Israel, seakan berdosa kepada Tuhannya.
Ayat-ayat Injil dalam kitab Genesis (Kejadian) Injil Perjanjian Lama King James version yang dijadikan dalil utama kelompok Zionis-Kristen di dalam sikapnya membela Israel tanpa syarat adalah :
“Dan Aku menjadikan engkau suatu bangsa besar, dan Aku akan memberkati engkau, dan menjadikan nama engkau besar; dan terbekatilah engkau” (Gen 12:2)
“Dan Aku akan memberkati mereka yang memberkati engkau, dan mengutuk mereka yang mengutuk engkau; dan dalam diri engkaulah semua keluarga dari dunia akan diberkati” (Gen 12:3)
Padahal di dalam sejarah penulisan Injil, kita sudah mengetahui bahwa di tahun 325 M dalam Konsili Nicea, ratusan versi Injil yang tidak sejalan dengan Kaisar Konstantin sudah dimusnahkan, dan ia hanya memilih 4 versi Injil yang sejalan dengan pandangannya dan dipakai hingga sekarang ini.
Salah satu tokoh Zionis-Kristen Amerika adalah Pendeta Franklin Graham dari The Southern Baptist Church. Ia merupakan putera keempat Pendeta Billy Graham. Franklim Graham pernah mengatakan, “Tuhan orang Islam itu berbeda dengan Tuhan kita. Tuhan orang Islam bukan Tuhan Bapa. Tuhan orang Kristen adalah Bapak dari Jesus Kristus. Tuhan mereka bukan Anak-Tuhan seperti iman Kristen atau Judeo-Christian. Dia Tuhan yang lain sama sekali, dan saya percaya Islam adalah agama yang jahat dan busuk. …Qur’an mengajarkan kekerasan, dan ekstrimisme Islam merupakan ancaman terbesar yang dapat disepakati siapa saja” (The Washington Post; Graham Speak Out; 9 Agustus 2002).
Pandangan Graham mewakili pandangan berjuta kaum Zionis-Krsiten yang terus melancarkan propaganda sesatnya tentang Islam hingga kini.
Padahal, jika saja mereka mau meluangkan waktu sedikit membuka lembar demi lembar kitab suci Zionis-Yahudi, Talmud, dan mencari ayat-ayat bagaimana sebenarnya sikap kaum Zionis-Yahudi terhadap Yesus dan Kekristenan, maka pasti orang-orang Kristen akan berbalik arah dan memusuhi kaum Zionis-Yahudi. Kata Talmud mengenai Yesus :
“Pada malam kematiannya, Yesus digantung dan 40hari sebelumnya diumumkan bahwa Yesus akan dirajam (dilempari batu) hingga mati karena ia telah melakukan sihir dan telah membujuk orang untuk melakukan kemusyrikan (pemujaan terhadap berhala)…Dia adalah seorang pemikat, dan oleh karena itu janganlah kalian mengasihaninya atau pun memaafkan kelakuannya” (Sanhedrin 43a)
“Yesus ada dalam neraka, direbus dalam kotoran (tinja) panas” (Gittin 57a)
“Ummat Kristiani (yang disebut ‘minnim’) dan siapa pun yang menolak Talmud akan dimasukkan ke dalam neraka dan akan dihukum di sana bersama seluruh keturunannya” (Rosh Hashanah 17a)
“Barangsiapa yang membaca Perjanjian Baru tidak akan mendapatkan bagian ‘hari kemudian’ (akhirat), dan Yahudi harus menghancurkan kitab suci ummat Kristiani yaitu Perjanjian Baru” (Shabbath 116a)
Inilah ungkapan hati Talmud yang sesungguhnya tentang Yesus dan umat Kristen. Siapa pun yang mengaku sebagai seorang Kristen, setelah mengetahui ayat-ayat pelecehan dari Talmud kepada Yesus dan agamanya, tetapi masih saja mendukung Zionis-Yahudi, masih saja membantu Israel, masih saja setuju dengan sikap G.W.Bush yang tanpa reserve terus memback-up Zionis-Israel, maka ia sebenarnya telah ikut-ikutan melecehkan agamanya sendiri. Luangkan waktu anda untuk membaca Talmud.
Sumber : “Knights Templar Knights of Christ” “Rizki Ridyasmara”
