Nasionalisme VS PersaudaraanSemesta

Mungkin dunia ini memang dipenuhi dengan orang-orang jahat dan gila, dimana orang-orang ini bisa jadi sangat membahayakan manusia sekitarnya. Namun yang jelas, ada jenis orang-orang jahat dan gila tertentu yang lebih berbahaya ketimbang jenis biasa. Orang-orang ini memang tidak kelihatan jahat atau gila sama sekali di hadapan manusia, sehingga bahaya mereka menjadi samar bahkan tidak tampak sama sekali. Tidak hanya terbatas pada manusia sekitarnya saja, melainkan juga melebar pada komunitas lain yang berjauhan jarak. Mereka inilah anak-anak Adam yang paling membahayakan bagi anak Adam lainnya. Merekalah orang-orang gila yang lihai.
Orang-orang gila yang bebas berkeliaran ini sering mengelabui umat. Di mata masyarakat mereka adalah figur-figur yang terhormat. Mereka diberi kepercayaan dan amanat mengendalikan urusan rakyat. Merekalah yang membawa umat manusia pada kehancuran dan kebinasaan.
Sosok-sosok inilah yang biasa kita sebut ‘pemimpin’ dan ‘pejabat’. Kupikir tidak ada komunitas manusia dimanapun yang lepas dari cengkraman kekuasaan orang-orang gila ini. Mereka biasanya akan saling sikut dan menjatuhkan, hanya untuk mencapai apa yang mereka sebut ‘kekuasaan’. Mereka selalu membangun konflik-konflik baru demi menyenangkan ambisi atau memenuhi kegilaan segelintir oknum yang menginginkan keruwetan-keruwetan demi kepentingan sendiri, namun dengan dibungkus kedok-kedok kasih sayang dan alasan-alasan palsu. Di tingkat bawah, rakyat yang mereka pimpin pun akhirnya bersitegang dan beradu fisik, akhirnya meletuslah konflik antar massa. Dan di sini, yang menjadi korban rakyat yang tidak berdosa, seolah mereka adalah kayu bakar di atas tungku pembakaran yang harus selalu menyala dan membara. Di sana-sini, orang-orang gila ini harus bersedekap laksana badut, menyaksikan pembantaian umat manusia. Mereka ayik menonton rakyat yang saling membunuh satu sama lain. Jika tontonan mereka mulai agak lesu, mereka pun akan berteriak memberi semangat dan menghasut, “Kamu akan celaka bila musuhmu tidak kau celakai”, orang-orang gila ini menipu rakyat dengan cara yang sangat halus, hingga tak seorang pun sampai sekarang ini mampu membuka kedok penipuan, kecurangan dan makar mereka. Mereka mengkampanyekan apa yang mereka sebut-sebut dan dewakan sebagai ‘nasionalisme’, sebuah paham kebangsaan yang berkiblat pada kebanggan semu suku sendiri, sehingga melahirkan sikap mau menang sendiri dan selalu turut campur dalam urusan suku atau kelompok lain. Nasionalisme merupakan bencana terkeji bagi umat manusia dalam pertumpahan darah dan peperangan yang maha biadab. Nasionalisme dalam pemahaman sempit ini merupakan bentuk ke-aku-an kelompok yang mehalalkan kekejaman dan kesadisan. Dimana, satu kelompok mengklaim diri mereka lebih baik dibanding kelompok lain. Mereka harus menjadi yang pertama dan terdepan dalam soal-soal hidup, kemakmuran keduniaan dan kemajuan harta benda. Mereka tidak mempedulikan apakah umat lain bisa mencicipinya atau bahkan jika perlu tidak mengenyamnya sama sekali.
Ya, ke-aku-an terjadi ketika seseorang selalu ingin berkata, “aku duluan”. Dan nasionalisme disini adalah jika suatu kelompok ngotot mengatakan, “Kami duluan”. Inilah bibit dari segala konflik dan pertumpahan darah. Karena setiap kelompok berambisi untuk mencicipi lebih banyak kue kemakmuran duniawi. Maka, yang kuat pun mencaplok yang lemah, dan yang kuat inipun akan saling jotos dengan yang kuat pula. Terjadi benturan kepentingan, lalu lahirlah perpecahan dan peperangan.
Itulah Nasionalisme, yang sering dipuja manusia sebagai sistem terbaik yang harus mereka pilih dan terapkan dalam kehidupan. Namun, jika manusia sadar, pasti akan tahu, tidak ada yang membawa umat manusia kepada bencana kehancuran yang lebih buruk daripada nasionalisme sempit ini. Andaikata mau membuka mata hati, manusia akan tersadar, mereka sebenarnya mampu menggapai tingkat kesempurnaan hidup yang lebih tinggi jika saja mampu mencabut dari dirinya apa yang dinamakan sebagai ‘nasionalisme’ ini. Lalu sebagai gantinya, mereka bisa menanamkan semangat ‘persaudaraan semesta’ yang mendudukkan dunia sebagai satu tanah air, serta menganggap anak Adam lain sebagai layaknya anak Adam, apapun ras dan bangsanya. Dengan ideologi ini dan hanya dengan inilah, dunia akan terbebas dari kejahatan dan kebiadaban perang.
Tapi, apa kamu pikir orang-orang gila yang memimpin bangsa-bangsa di dunia ini akan begitu saja menerima dan melapangkan jalan bagi pengembangan semangat persaudaraan semesta ini? Bagaimana nasib jabatan dan kedudukan mereka sebagai pemimpin?

Sumber : “Izrail” by “Yusuf As Siba’i”

Izrail_2

Published in: on 26 August 2008 at 1:37 pm Leave a Comment
Tags: ,

Ujian lagi.. Ujian Lagii..

Semester delapan, hmm…tak terasa kan sudah ada di semester ini, ternyata sudah hampir 4 tahun di kampus perjuangan ini. Masih inget gimana harus bangun super pagi buat nyari nasi bungkus warna coklat dengan lauk berukuran segitiga, masih inget sulit bangun buat masuk kelas TPB, masih inget gimana siang dan malem bersauna ria dengan bayang-bayang SK-Rektor, masih inget jalan-jalan ke Jakarta (hmm…Jakarta lagii, memorable!!!).

Di awali di semester tujuh, dimana ikrar dan komitmen dikumandangkan di TC105 sebagai tanda DSS brotherhood didirikan. Dengan semangat bagaikan perjuang yang tersudut dalam perang (yang artinya dalam teori the art of warnya sun-tzu berarti ‘mati berjuang sampai titik darah terakhir’) akan rela bersedia mencurahkan pikiran dan tenaga untuk menyelesaikan dalam waktu 3 bulan. Masih inget dengan harus membagi kasta menjadi 3 periode (kasta layaknya dalam kehidupan sosial di India) untuk mendapatkan bimbingan rohani dari Sang Phenomenon dozen.

Dan waktu dalam seminggu yang di berikan untuk mencoba, memahami serta membuat risalah ‘bayesian’, dilaksanakan dengan segenap tenaga walaupun makan dan tidur diselimuti perasaan tak tentu arah.

Awal yang tidak membahagiakan pun terjadi. Sebuah pra-ujian awal di semester delapan. Di sebuah hari pada saat liburan semester tujuh yang tercinta ini dimulai, hari dimana gerombolan Narsiis menuju kota Megapolitan yang kejam, Jakarta, Ibukota negara kita cintai melebihi jiwa dan raga kita ini. Lelah, penat menggelayuti disertai dengan rasa mual yang menghantui dan rasa pusing yang membuat kepala ini terasa berat. AntoBodi ini yang kurang kompak, perjalanan jauh ini yang membosankan, bau badan ini yang seharian belum mandi, kesendirian ini di bangku kendaraan beroda 6 ini dengan melayangkan pandang sejauh-jauhnya di cakrawala melalui kaca samping membuat badan ini terasa tidak kuat lagi menahan desakan-desakan yang sedari tadi terus mencoba tuk menyeruak keluar. Akhirnya titel gak enak badan dan sakit pun didapatkan selama perjalanan panjang ini. Tidur adalah solusi, seperti bahasa keramat kaum dukun modern lulusan Fakultas kedokteran Umum, ‘banyak istirahat’, yup bener ku lakukan itu. Tak terasa masa dormansi yang ku lakukan dalam detik-detik perjalanan ini akan membuahkan sebuah kejutan padaku. Sebuah kejutan yang juga pernah ku alami saat ku ke Jakarta tempoh doeloe dalam misi perdamaian SI-ITS dan BI pusat dalam rangka mencari satu sks.

Nokia 5300

Tahukah kawan dengan N5300, hape warna merah, slider, mini dan trendy ini sudah menemaniku sejak semester yang lalu. Dimana segala sms dari BSMq, sms dari temen2q, segala telepon dari kolega dan rekan bisnis, serta catatan-catatan kehidupan dengan setianya ada dan berada di HP ini. Kalopun bosen dan gak bisa tidur dalam perjalanan panjang melelahkan nan membosankan ini, MP3 dengan suara-suara serak dari kaum benua biru yang kebanyakan gak da yang ngerti bahasanya pun dengan lantang dan tak henti-hentinya tanpa lelah sedikitpun (yach..kecuali bila baterainya lagi drop!) berteriak dalam telingaku.

Ingat dengan masa dormansiku tadi, dalam perjalanan ini, hmm…

Dimana rasa pusingku yang masih menyerang dengan ganasnya. Ternyata masih ditambah juga dengan rasa pusing disertai kesal, marah, kecewa dan sedih karena kejutan-kejutan yang ku terima dengan tanpa permisi (Tidak Sopan!). HPq kawan, HP N5300 yang keren serta sangat kusayangi, terkulai lemas, memandangku dengan matanya yang sembab, dengan LCDnya yang terbakar, hitam legam tanpa dapat menampilkan screen menawannya. Huh…andai ku bisa kembali ke waktu itu.

Tapi kesedihan ini tidak terlalu terasa menggetarkan hati, selain karena ini adalah kejadian kedua kalinya, di Jakarta pula, dengan HP yang sama dan dengan diagnosa sakit yang sama pula, pun juga karena ku masih bisa berhubungan jarak jauh dengan BSMq melalui jalur lain yang digawangi oleh N70q yang terhebat.

Ingin tahu kejadian yang pertama kalinya kawan…

Dimulai dimana kontingen SI-ITS sebanyak 6 orang mendapatkan misi perdamaian tuk menimba ilmu ke BI pusat di Jakarta tentunya. Dimana misi ini juga digunakan untuk misi pribadi aji mumpung (jangan heran sekarang kenapa pejabat suka menyelewengkan ‘dinas keluar kota’nya yang agung menjadi sebuah bentuk piknik batin pribadinya), mumpung di Jakarta, kita teguk aroma bau modernitas, aroma bau materialistis, dan aroma bau kota Megapolitan yang menawarkan ’segalanya’. Penyakit itupun juga menjangkiti kita, kelompok Bunga Matahari dalam misi satu sksnya di Jakarta.

Sebuah Ajang empat tahunan dari seluruh negara Asia ikut andil bagian dalam perhelatan akbar ini. Dan sekarang waktunya Indonesia tuk mendapatkan kehormatan menyelenggarakannya di Bumi Pertiwi yang melahirkan anak-anak pejuang yang dengan gigih berani melawan kolonial hanya dengan bambu runcing. Begitupun kami, dengan 4 orang perwakilan dari tim bunga matahari, mewakili tuk ikut andil bagian menyuarakan Indonesia Raya dengan lantang bersama ribuan rakyat Indonesia, memadapati sebuah arena perjuangan anak-anak merah putih, dengan hanya bermodal 15 ribu plus kenekatan mengikuti budaya ‘antri’ bangsa Indonesia yang melegenda, uyel2lan gak karuan!. Suasana sungguh haru, saat Indonesia Raya dikumandangkan, merinding rasanya mendengar seluruh perwakilan rakyat Indonesia dalam aneka macam ‘baju’ yang disandangnya melantunkan Lagu negeri ini yang diciptakan 80 tahun yang lalu melalui sebuah forum sederhana muda-mudi bangsa jamrud khatulistiwa ini. Berdiri serempak, dengan tangan memegang dada bagian kiri, menandakan bahwa nyanyian ini, senandung ini keluar dari lubuk sanubari yang paling dalam. Semangat tiada henti, teriakan kobaran kata-kata penyemangat dari seantero arena dilontarkan layaknya lahir bung tomo-bung tomo baru tuk menyemangati perjuangan tim merah-putih di atas lapangan hijau. Tak luput juga kami, selama satu setengah jam, tanpa lelah, tak berkedip sedikitpun, dengan jantung berdetak kencang, andrenalin mengalir dengan deras membagi-bagikannya ke seluruh urat syaraf
tubuh ini, sesekali tanpa sadar teriakan histeris, kekecewaan, ataupun nada marah terlontar dari bibir mungil kami. Tak terasa hampir 90 menit menuju tambahan waktu akan dimulai, dimana hasil seri yang diharapkan akan tercapai. Tiba2… menit2 menggetarkan bagi tim merah-putih (menggetarkan pula bagi ku khususnya) pun terjadi juga, sebuah sundulan manis nan indah serta berteknik tinggi (ni sudut pandang dari tim hijau dari timur tengah tentunya, tapi bagi suporter gibol maniak militan bonek dsb, pasti satu kata, ‘memuakkan’). Dan begitu juga dengan aku, saya, gue, me. Saat momen-momen terindah, menggetarkan hati saubari, menggerakkan tubuh ini tuk berdiri dan mulut ini tuk berteriak memberikan semangat tanpa lelah. Tanganku yang hitam kasar ini merogoh saku jeansku, tuk mengabadikan momen yang dalam hidup ini belum pernah kudapati. Anda tahu kawan apa yang akan ku gunakan, hmm… harusnya anda tahu, N5300q yang keren. Dan anda tahu apa yang ku lihat sesaat (beberapa detik tepatnya) sebelum sundulan maut mengKOkan teriakan-teriakan pendukung kesebelasan merah-putih melawan Arab Saudi ini. N5300q yang keren, tidak lagi menyombongkan kemolekan casingnya, tidak lagi berkedip menggoda, sekarang dia tergolek lemah di telapak tanganq dan menampilkan hawa negatif menyeruak keluar menyerang hidungku, pemandangan yang menyedihkan bahkan akan membuat anda tidak bisa tidur dalam seminggu pun tersaji secara gratis di depan mata sayuq (tanpa tetesan air mata, hanya kemarahan, kekecewaan dan penyesalan saja!). LCDq dengan semena-menanya terbakar, menampilkan noda hitam seperti habis ada kebocoran pipa minyak mentah di dalamnya. Yup bener, N5300q rusak berat, LCDnya kepencet2, dan bocor pulalah ion-ion kimiawi yang hidup dan tinggal beranak pinak didalam LCD HPq ini. Kekecawaan dan Penyesalan pastilah hinggap di sanubariq yg paling dalam, tak terkira, tak dinanya2, hal ini bisa terjadi. Dan pada akhirnya hal yang paling memuakkan adalah JARAK. Kenapa bisa begitu?, Ingat kawan HP ini adalah alat komunikasi umat manusia dengan umat manusia lain di tempat dan waktu yang berbeda seakan dekat dan sama. Dan pada akhirnya jarak JKT-SBY menjadi semakin jauh dengan adanya ‘pesakitan’ HPq ini. Komunikasiq dengan BSM pun jadi tidak lancar, terputus dan gak karuan. Pun juga ucapan Selamat MILAD tidak bisa q ucapkan kepadanya sebagai orang yang pualing pertama kali di dunia yang ngucapin kepadanya.

to be continued..

Published in: on 22 August 2008 at 6:39 am Leave a Comment
Tags:

-Chapter 5 Drilling Down-

Customer Marketing Strategy: The Friction Model

You have probably heard or read references to the
“portfolio” approach to managing customers and their value.
I think it’s a sound idea and one I have used over the years
because it’s generally quite easy to understand in theory,
though the actual implementation is always left for you to
figure out on your own. So we’re going to take a look at
this portfolio approach for managing customers and I am
going to supply you with the implementation tools you need
to actually make it work. This is an important chapter,
because understanding these concepts will provide you with
the very foundation needed for developing all of your
Data-Driven marketing campaigns and programs.

The general idea behind the portfolio approach to customer
value management is this: your customer base is a business
asset. Businesses can have lots of different assets, for
example, real estate holdings, buildings, inventory, and
common stock, along with other financial instruments. Each
of these assets has a value to the business. This
collection of assets is an “asset portfolio,” just as you
may hold your own personal portfolio of stocks.

The assets in a portfolio have a current value, which is
what they can be sold for today. As we know, there can be
changes in the current value of an asset portfolio over
time, as what you can sell assets for changes almost daily.
Assets also have an “expected” or future value, which can
be rising or falling as well, depending on the market for
an asset and the type of asset it is. For example, real
estate generally appreciates in value over time, but
machinery generally declines in value over time. This
means at any point in time, an asset has a current as well
as a potential or future value.

The customer base can be viewed as such an asset as well,
and in fact, each customer has a current and a potential
value. The current value is whatever the customer has
created in value for the business as of today. Current
value could be the cumulative profits for the customer
since they became a customer, or the cumulative advertising
value of all the visits made to a web site since the first
one. Potential value is the future stream of profits
expected from the customer as long as they continue to be
a customer. If the customer terminates the business
relationship, the potential value of the customer drops
to near zero; this is the end of the customer LifeCycle,
the defection by the customer. The sum of Current Value
and Potential Value is equal to the LifeTime Value of the
customer; it’s the Total Value contributed by the
customer to your business.

If customers in your customer portfolio have both
current and potential value, then you can set up a 2 X 2
chart describing the value of your customer base in terms
of current plus potential value (LifeTime Value):

(click the link below to see chart)

http://www.jimnovo.com/images/value-model.jpg

Figure 1: The Customer Value Portfolio

Customers having both high current value and high potential
value (upper right corner of chart) are the “rocket fuel”
customers; these are the 10% – 20% of your customers
generating 80% – 90% of your profits. You very much want
to keep these customers and should be paying special
attention to keeping them happy; these are your best
buyers, heaviest visitors, and so forth.

In the lower left corner of the chart, you have the
opposite situation; these customers have low current and
low potential value. This group probably includes most
of your 1X buyers, accidental visitors to the web site,
and so on. For the most part, though it’s nice to have
these customers and they perhaps contribute to paying
overhead costs, you probably should not go out of your way
to spend a lot of resources trying to grow their potential.
In fact, this group likely contains every customer you have
already spent too much money marketing to – those that
never respond. This is also the group customer “win back”
programs often focus on.

The upper left and lower right corners of the chart hold
customers with a mix of current and potential values. In
the upper left, you have high current, low potential value
customers. This area is populated mostly by defecting best
customers – they were best customers at one time (by
current value) but for whatever reason have slowed their
profit-generating activity with you and are probably
destined to fall into the lower left corner of the chart by
defecting. If you’re smart, you’ll come up with programs
that drag them back across to the upper right corner.
Customer retention programs should be focused on this
group, but more often than not, are not really focused on
any group in particular, and that is why they have a
high failure rate.

In the lower right corner, you have customers with high
potential value and low current value. Who are these
people? It’s likely they are fairly new customers who
have not had a chance to create a lot of value for you yet,
but are expected to create value in the future. If they
do, they will rise into the upper right hand corner of the
chart and become “rocket fuel” customers. If they don’t,
they will fall back across the chart into the lower left
corner and contribute very little. Customers in this
corner should be the targets of programs designed to
increase customer value, though as with the retention
programs mentioned above, these “grow the customer”
programs are often not focused on this specific group
and tend to actually lose a lot more money than they make.

That’s the portfolio approach to managing customers and
their value, or at least my definition of it. There are
others, which for the most part use lifestyle or
demographic metrics to allocate the customers. But we’re
on to that charade, right? Demographics tell you nothing
about the current or potential value of the customer, and
if you’re in a real business, what you care about is the
money. For this reason, my approach uses actual spending
or value-generating behavior to allocate customers into the
quadrants of the customer portfolio.

You say, “Yea, but wait a minute Jim, you’re pulling a fast
one here. I get how current value is derived, I mean, it’s
the actual transactional value of the customer – sales,
visits, whatever behavior is monetized by the business.
But how do you do this “potential value” allocation, how do
you measure potential value? I guess future behavior will
create value in the future, but how do I measure behavior
that has not happened yet? What kind of behavior indicates
the potential value of the customer? I was with you until
now, but this idea sounds…”

Relax. Can you take the pebble from my hand, grasshopper?
When you can take the pebble from my hand, it will be
time for you to leave.

If you didn’t get the reference above, you’re not up on
your 70’s TV shows. Try a web search on “pebble
grasshopper Kung Fu” if you really need to know.

But you are right. This whole potential value measurement
issue is, of course, the big problem embedded in the
preaching you hear on LifeTime Value, CRM, and these
portfolio models of customer value. How do you deal with
this whole “potential value” question, how do you actually
measure it and act on it?

Well, fellow Driller, would it surprise you to learn that
the specific answers to those questions are what the rest
of this book is about? I’m not going to give you a
conference lecture about all these wonderful things you
should be doing with customer value management and then not
tell you how to actually do them. Oh no. You will find
out exactly how to measure potential value, and as a bonus,
you will be surprised how easy it is. In fact, there are
specific metrics for potential value and you will learn
what they are and exactly how to use them.

Recall this passage from the previous chapter:

It’s not nearly as important to know the absolute or exact
value of a customer as it is to know whether this value is
rising or falling over time. Customer behavior also
changes over time, and these changes in behavior typically
precede a change in customer value. That means if you
track these changes in behavior, you can forecast a change
in value, and if you can forecast a change in value, you
can get your campaign or program out there and do something
about it. This is the core idea behind Relationship
Marketing, and these changes in customer behavior and value
over time are called the Customer LifeCycle.

So the following may not surprise you: there are LifeCycle
Metrics you can use to forecast future changes in value by
tracking behavior in the present.

Pretty handy, huh? And just in time, it seemed like you
were getting kind of unruly…

These LifeCycle metrics are where the idea of Friction
comes into play. They measure Friction so that you can
track and manage it. And if you can track and manage
Friction, you can actually put the concept of the customer
portfolio management from above into action.

Friction is really about the likelihood a customer will
continue to do business with you. The actual causes of
friction are created on the business side, and manifest
themselves on the customer side as impatience, frustration,
and lack of loyalty. Customers encounter varying degrees
of this friction in their business relationships, and
become more or less likely to do business with you as this
friction changes. They already have low tolerance for poor
customer service, processes that don’t work as they should,
pricing that changes unexpectedly or is confusing,
interfaces that make it difficult to accomplish tasks,
communications that are sloppy, not delivered in a timely
way, or irrelevant. All of these friction points tend to
create increasing levels of frustration and ill will, which
over time mutate into dissatisfaction and defection.
Friction accumulates to the point the customer simply
decides to start seeking alternatives, and once
alternatives are found, the customer terminates the
prior business relationship.

Now, none of this may sound new to you, but here is
something that is new. The friction effect is especially
true and is more pronounced as “customer control” of the
business relationship increases. Customers are demanding
and taking more control of business relationships
themselves, as is true with web retail, or have been forced
to take control, as with the practice of pushing customers
to serve themselves though the web or a telephone interface.
As the ability for the customer to exert control in the
business relationship increases, customers become less
and less tolerant of friction.

And, as friction rises, the customer becomes less and less
likely to do business with you in the future. If a
customer is becoming less and less likely to do business
with you, the value you could realize from the business
relationship with the customer in the future has
to be falling.

In other words:

Rising friction = falling potential value;

Falling friction = rising potential value

So, if you can measure friction, you can measure
potential value. And measuring friction is exactly what
LifeCycle Metrics do. By measuring friction, these metrics
also measure the likelihood of a customer to do business
with you in the future, and so also measure the potential
value of the customer. Visitors and customers will
“signal” their friction levels through their own behavior;
LifeCycle Metrics organize and codify this behavioral data
for you, and allow you to create reports and trip wires
that flag increasing or decreasing friction.

And how do you reduce friction? By applying the grease, my
fellow Driller – your innovative selling and service
campaigns are the grease that will hopefully reduce
friction and increase the potential value of the customer.
Fortunately, you will have your LifeCycle Metrics to tell
you precisely who needs the grease, when it should be
applied, and even when it should be applied a second time.

Your potential value metrics will also tell you when your
relationship with the customer has already “seized up” and
it’s too late for the grease. You only have so much grease
and the grease is expensive, so you want to apply it only
when and where you think it is likely you can reduce
friction and prevent the relationship from seizing up.

By the way, customers are not the only folks who experience
friction, people trying to become customers experience it
also. An easy way to measure this want-to-be-a-customer
friction is to look at the visitor conversion rate on your
web site. Navigational design and layout determine
“physical” friction and copy elements determine “emotional”
friction. Design and layout testing will reduce physical
friction; persuasive copywriting will reduce emotional
friction. Success at reducing want-to-be-a-customer
friction is measured by an increased rate of visitor
conversion to goal on the web site.

But back to customers. With our first LifeCycle Metrics,
Latency and Recency, we’re going to be looking at the
tracking of potential value only, and how you can use
changes in potential value to trigger High ROI Customer
Marketing campaigns or programs. After the Latency and
Recency metrics we will cover the RFM model, which uses
both Current Value and Potential Value metrics to really
uice up your results and drive even higher profits to the
bottom line of your company.

Published in: on 11 July 2008 at 4:12 pm Comments (1)
Tags:

Resep Kue Perkawinan

kue
Bahan :
1 pria Sehat
1 wanita sehat
100% komitmen
2 pasang restu orang tua
1 botol kasih sayang murni

Bumbu :
1 balok besar humor
25 gr rekreasi
1 bungkus doa
2 sendok teh tlp2an
5 kali ibadah/hari
semuanya diaduk hingga merata dan mengembang

Tips:
- pilih pria/wanita yang benar-benar matang dan seimbang
- Jangan yang satu terlalu tua atau terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan (sebaiknya dibeli di toserba bernama tempat ibadah, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin)
- Jangan beli di pasar yang bernama diskotik atau party karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan)
- Gunakan kasih sayang cap ‘Dakwah’ yang telah mendapatkan setifikat ISO dari Departemen kesehatan dan kerohanian.

Cara memasak :
- pria dan wanita di cuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni
- Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata
- Masukkan niat yang murni ke dalam loyang dan panggang dengan api merata sekitar 30 menit di depan penghulu
- Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan bumbunya
- kue siap dinikmati

Catatan :
- Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan hangat. Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven bermerk tempat ibadah. Setelah mulai hangat jangan lupa tlp2an bila berjauhan dan sedikit bumbu penyedap rasa alami keromantisan.

Sumber : “ya Allah Aku tak ingin sendiri” “Burhan Sodiq”
buku

Published in: on 10 July 2008 at 2:15 pm Comments (2)
Tags: , ,

Yoga, ritual setan menyembah Matahari

y1
Secara bahasa yoga bermakna menyatu, manunggal dengan kesadaran Tuhan atau kenyataan diri sendiri. Dengan kata lain yoga merupakan salah satu ritual yang mengantarkan seseorang pada kemanunggalan dirinya dengan sang pencipta.
Dalam prakteknya, yoga mirip dengan kegiatan olah raga/ olah tubuh dengan tujuan tertentu. Nama asli olah tubuh ini sendiri berasal dari bahasa sangsekerta yaitu sastanga suriyanama sakar yang artinya sujud kepada matahari dengan menggunakan anggota tubuh yang delapan. Dengan demkian, yoga bukanlah olahraga murni yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh maupun ketenangan batin, sebagaimana klaim para praktisinya. Secara esensi yoga lebih dekat pada salah satu bentuk ritual setan atau praktik ibadah yang ditujukan oleh pengikutnya kepada dewa matahari. Bentuk ritual ini merupakan praktik yang sudah berlangsung selama ribuan tahun yang lalu di India.
y2
Gerakan yoga yang bertumpu pada sepuluh gerakan. Salah satu bentuk gerakannya adalah gerakan menelungkup di atas tanah dengan keadaan memanjang hingga ke delapan anggota tubuh menyentuh tanah (dua tangan, hidung, dada, dua lutut, dan jari-jemari dua telapak kaki). Gerakan ini serupa dengan bentuk gerakan sujud kepada matahari dengan menggunakan anggota tubuh yang delapan.
y3
Jika kita amati, maka gerakan-gerakan yoga ini menyerupai gerakan apra dewa yang disembah oleh orang-orang India. -di dalam buku senam yoga untuk ibu hamil terdapat gerakan-gerakan seperti ini dimana gerakan-gerakan ini dijelaskan merupakan gerakan seperti gerakan dewa, jelaslah disini bahwa senam yoga memang merujuk gaya dan gerakan para dewa yang disembah oleh kaum pagan-. Dalam melakukan gerakan ini, mereka mengiringinya dengan lafadz-lafadz dan bacaaan tertentu yang beraroma mantra. Mereka melakukannya dengan irama teratur. Sebagian dari bait-bait mantra ini mengandung nama-nama matahari yang berjumlah 12. Dalam mengucapkan mantra-mantra (mereka menyebutnya afirmasi) terkadang mereka menambahinya dengan lafadz aum haraam, aum hariim, aum haruum, yang memiliki makna dalam bahasa syari’at : Allahumma / Ya Allah.
Ada sebagian praktisi yoga menggabungkannya dengan ilmu beladiri. Seperti Perguruan Olah Raga TEnaga DAlam CAKRA MURTI (PORTEDA CAKRA MURTI atau PCM) adalah sebuah perguruan olah raga bela diri yang berdasarkan pada tenaga dalam yang diperoleh dengan melakukan senam pernafasan yoga yang telah dimodifikasi. Para pengikut aliran ini meyakini bahwa tenaga dalam selain dapat digunakan sebagai bela diri, meningkatkan kesehatan, dapat juga dipakai untuk pengobatan/penyembuhan alternatif bagi diri sendiri maupun orang lain.
y4
Menurut para praktisi PCM, olah raga ini memiliki keunikan tersendiri yaitu simpul-simpul kekuatan yang berada di dalam tubuh astral/cakra -Bagi para praktisi yoga dikenal sebagai cakra yang merupakan bagian halus dari tubuh mereka. Keberhasilan seseorang belajar yoga dapat diukur dari terbukanya cakra-cakra yang terdapat pada tubuhnya. Di dalam tubuh manusia, cakra yang telah aktif berguna sebagai kendali, penggerak dan pemberi daya hidup kepada alat-alat organ tubuh manusia. Juga merupakan alat pusat energi psikis guna keseimbangan antara ke empat buah fungsi utamanya, yaitu : berfikir, merasakan, sentuhan dan intuisi. Berdasarkan ajaran yoga bahwa di dalam tubuh manusia terdapat tujuh cakra utama yang merupakan pusat energi psikis, antara lain: Cakra dasar (muladara cakra), cakra pusar (manipura cakra), cakra pankreas, cakra jantung, cakra tenggorokan (vishuda cakra), cakra mahkota (sahasaea cakra)- para anggotanya ternyata dapat dirangsang untuk diakifkan/dibuka cakranya oleh Guru Besar dalam tempo yang relatif singkat (kurang dari 5 menit). Dengan terbukanya cakra tersebut, selanjutnya pada anggotanya tinggal berlatih merasakan getaran, membangkitkan dan meningkatkan tenaga dalam, dan belajar menggunakan secara efektif melalui latihan rutin.
y5
Sebagian praktisi yoga berdalih bahwa mereka mengikuti kegiatan ini hanya semata untuk kesehatan dan kebugaran. Para praktisi PCM misalnya, merasakan bahwa dalam tempo 4 bulan saja mereka merasakan peningkatan kesehatan yang sangat signifikan. Dan bagi yang baru masuk, kondisi fisik dan kesehatannya memang baik dirasakan menjadi lebih fit. Mereka juga merasakan lebih aman dan percaya diri. Namun ada juga yang mengklaim telah dapat menggunakan tenaga dalamnya untuk mendeteksi kekuatan (getaran) jarak dekat dan jauh, mengirim kekuatan (transfer power) jarak dekat dan jauh, membuat diri kebal akan pukulan dan senjata tajam, pemecahan benda-benda keras, juga untuk menyerang dan bertahan dengan menggunakan tenaga dalam dan lain-lain.
y6
Perlu diketahui bahwa keberadaan yoga yang banyak dilakukan oleh masyarakat dan perkumpulan yoga hari ini sebenarnya bukan yoga yang murni olah tubuh. Yoga yang berkembang saat ini adalah yoga yang menggabungkan unsur ketenangan dan kesucian jiwa. Mereka yang melakukannya selalu mengiringinya dengan bacaan-bacaan khusus disertai dengan menghadirkan hati dan kekhusyu’an. memusatkan pikiran dan konsentrasi, atau melihat pada objek gambar tertentu. Setelah mereka melakukannya, biasanya mereka merasakan sensasi yang berbeda. Ada yang mengklaim bahwa mereka didatangi oleh mahkluk astral yang sesungguhnya itu adalah setan.
Waktu-waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan yoga ini adalah ketika terbit matahari dan terbenamnya. Kedua waktu tersebut merupakan kondisi dimana matahari berada di antara dua tanduk setan. Hendaknya seorang muslim menghindari waktu-waktu yang menjadi kebiasaan para praktisi yoga saat melakukan ritualnya. Bahkan untuk ibadah sholat sekalipun, Rasulullah melarang seseorang melakukan pada waktu-waktu tersebut.
Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa di saat seseorang melakukan gerakan-gerakan dewa ini, maka dengan mudah setan akan masuk ke dalam tubuhnya. Setan akan dengan cepat masuk ke dalam aliram darahnya ketika ia melakukan gerakan-gerakan ini. Salah seorang praktisi yoga yang diruqyah menceritakan bahwa di dalam dirinya terdapat pulihan ribu jin. Ketika ditanyakan kepada ustadz yang meruqyah dirinya, jin-jin tersebut masuk ke dalam tubuh saat melakukan gerakan-gerakan ritual itu.
Ajaran yoga yang mengajarkan pencapaian puncak spiritual tertinggi ini sangat rawan tersusupi ideologi wihdatul wujud, sebuah ideologi yang sudah divonis kafir oleh jumhur ulama. Dengan demikian, tingkat bahaya ajaran ini bukan semata gerakan-gerakan bid’ah, melainkan juga bisa menjerumuskan seseorang dalam kemusryikan yang mengeluarkan seseorang dari millah.

Sumber : “Kaki tangan DAJJAL mencengkeram Indonesia” ” Abu Fatiah Al-Adnani”
bukuD

Published in: on 9 July 2008 at 2:42 pm Comments (8)
Tags: , ,

Debat Kusir Tentang Ayam

Ayam+Telur
Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda tersenyum. Beliau memanggil pengawal agar mengumumkan kepada rakyat bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum. Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal. Barangsiapa yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mendapat imbalan yang amat menggiurkan. Satu pundi penuh uang emas. Tetapi bila tidak bisa menjawab maka hukuman yang menjadi akibatnya. Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas. Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri. Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Peserta pertama maju dengan tubuh gemetar. Baginda bertanya, “Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?” “Telur.” jawab peserta pertama. “Apa alasannya?” tanya Baginda. “Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur.” kata peserta pertama menjelaskan. “Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?” sanggah Baginda. Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas. la tidak bisa menjawab. Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara. Kemudian peserta kedua maju. la berkata, “Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan.” “Bagaimana bisa bersamaan?” tanya Baginda. “Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bila teiur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami.” kata peserta kedua dengan mantap. “Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?” sanggah Baginda memojokkan. Peserta kedua bjngung. la pun dijebloskan ke dalam penjara. Lalu giliran peserta ketiga. la berkata; “Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur.” “Sebutkan alasanmu.” kata Baginda. “Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina.” kata peserta ketiga meyakinkan. “Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada.” kata Baginda memancing. “Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan
dewasa dan mengawini induknya sendiri.” peserta ketiga berusaha menjelaskan. “Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?” Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. la pun dimasukkan ke penjara. Kini tiba giliran Abu Nawas. la berkata, “Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam.” “Coba terangkan secara logis.” kata Baginda ingin tahu “Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam.” kata Abu Nawas singkat. Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak nyanggah alasan Abu Nawas.

Published in: on 8 July 2008 at 1:51 pm Leave a Comment
Tags: , ,

JANGAN PUTUS ASA

Ketika semua serba salah, sebagaimana biasanya,
Ketika jalan yang aku tempuh terasa mendaki,
Ketika uang hanya sedikit, sedangkan utang melilit,
dan kau ingin tersenyum, tetapi kau terpaksa mengeluh,
Ketika urusan terasa agak membebanimu,
Istirahat kalau perlu, tapi jangan berhenti.

Hidup ini aneh bila tanpa lekuk dan liku
Seperti yang kadang-kadang kita alami,
Dan banyak kegagalan yang kita jumpai,
Ketika semestinya kita berhasil, ada saja yang menghalangi;
Namun jangan menyerah kendati gerak maju tampak lambat,
Siapa tahu berhasil pada usaha berikutnya.

Keberhasilan adalah sisi lain kegagalan,
seperti tinta perak dibalik awan keraguan,
dan kau tak pernah tahu seberapa dekat tujuanmu,
Mungkin sudah dekat ketika bagimu terasa jauh;
Maka tetaplah berjuang bahkan ketika hantaman semakin keras,
Ketika segalanya tampak buruk,
kau tetap tak boleh berhenti.

sumber : Clinton Howell dalam Buku “Sop Ayam untuk Jiwa yang tak dapat ditenggelamkan”

Published in: on at 1:38 pm Leave a Comment
Tags:

Filosofi Boomerang

Tahukah kamu tentang benda yang merupakan senjata khas suku Aborigin di daratan yang nenek moyangnya dulu adalah bekas penjahat yang dibuang karena tidak kebagian jatah penjara dari negeri dongeng Ratu Elizabeth itu. Gerakan bumerang adalah kombinasi translasi dan rotasi mirip dengan bilah helikopter.
Bumerang
Translasi sendiri merupakan suatu bentuk gerakan dengan lintasan lurus. Dan Rotasi merupakan gerakan berputar sebuah benda pada suatu sumbu yang tetap seperti perputaran planet yang anda tepati sekarang yang seakan diam ini pada porosnya. Rotasi ini dapat mengakibatkan benda tersebut mengalami gaya sentrifugal, keren kan namanya tapi jangan terkecoh. Masih ingat kan dengan gaya ini, bila anda pernah mendengarkan pelajaran fisika di sma dulu bahwa gaya ini akan mengakibatkan benda tersebuat akan terlempar keluar sebagai contoh bila anda berdiri tegak dan berputar-putar di poros anda berdiri, anda akan terlempar kluar (dan tentu saja mual2 serta berkunang2), hmm… maaf tu contoh buruk, contoh sederhana bila anda bisa menaiki mobil dan berlaku gila dengan menyengendarainya dengan kecepatan tinggi serta berputar-putar mengelilingi bundaraan ITS, anda juga akan pusing, hmm benar, tapi fokuskan saat anda sedang berputar-putar anda akan serasa terlempar kluar menjauh dari titik pusat poros rotasi. Ok, cukup sudah teori fisika kita tentang bumerang. Tahukah kawan dengan benda yang sebenarnya senjata ini menyimpan sebuah filosofi yang sebenarnya bisa kita sebut dengan sebuah senjata makan tuan. Setiap senjata selalu mempunyai dua sisi yang berlawanan -dan memang di dunia ini selalu ada dua sisi, jahat dan baik, hitam dan putih, sedih dan senang- sisi satunya adalah tentang menyerang lawan, dan sisi lainnya hanya digunakan untuk bertahan alias membela diri. Bagaimana dengan sang bumerang, tahukah kawan seorang dengan senjata bumerang di tangan selalu mengarahkan ke sisi lain musuhnya saat menyerang karena tujuan dari serangan tersebut adalah dari belakang, saat musuh mengira serangan tersebut meleset ternyata salah!, pendapat musuhnyalah yang salah, karena ternyata bumerang tersebut kembali dan menyerangnya. Dan kenapa orang-orang yang ceroboh sering disebut ‘keputusanmu akan jadi bumerang’, bahwa artinya adalah ANDA sedang membuat keputusan yang kontroversial dan nantinya mempunyai kemungkinan besar akan menyerang balek anda, dan lebih kejam lagi membuat anda terbunuh atau dalam segi industri bahwa anda bangkrut dan perusahaan anda gulung tikar.

Keputusan merupakan pilihan yang selama hidup anda pasti selalu akan membayangi anda dimana pun juga bahkan di tempat tergelap pun yang tidak akan ada tercipta bayangan, karena memang keputusan itu bukan bayangan bagi anda tapi ANDA sendiri lah keputusan itu. Tahukah kawan, ada kemungkinan bahwa saat anda berlatih menggunakan bumerang, kepala anda akan terkena sakitnya terlempar senjata ini. Begitu juga dengan keputusan yang anda buat, kemungkinan salah pun sebesar kemungkinan anda benar. Seperti kata pepatah bahwa semakin besar resiko maka semakin besar pula keuntungan yang anda dapat, begitu juga sebaliknya. Resiko bisa diidentifikasikan sebagai sebuah BAHAYA karena akibat sebuah proses yang berlangsung lalu, sekarang atau yang akan datang. Resiko merupakan ketidakpastian, seperti halnya bumerang yang tentu saja arah kembalinya tidak dapat diprediksi -selain mungkin atlet bumerang yang menjuarai emas tiga kali berturut-turut di olimpiade suku aborigin tentunya, dia tidak menghitungnya seperti ahli fisika kawan, tapi hanya naluri yang dihasilkan dari latihan setiap hari selama 5 jam-.

‘Hati-hati melemparnya atau anda tidak akan pernah mengetahui kapan kepala anda terantuk benda itu’

Sebuah keputusan bisa menjadi pilihan terbaik abad ini bagi anda atau menjadi bumerang bagi anda sendiri, terantuk kepala anda sendiri, sakit tentunya tapi yang pasti anda telah melakukan pilihan anda sendiri -Banggalah terhadap hal itu, karena tidak semua orang bisa melakukannya-. Masih ingat dengan pengambilan keputusan di dalam sistem pendukung keputusan, intellegence, design, choice dan implementation (anda tidak ingat kawan, hmm.. sama saja juga -mengingat skr dah jam 4 pagi dan saya sangat mengantuk setelah melihat Spanyol dan Rusia, ingat kan semifinal Euro2008- perlu kita kaji bersama, ato tinggalkan saja), pertama kali tentunya pencarian data yang relevan, analisa data yang sesuai dengan kebutuhan, buat langkah tahap keputusan yang akan dihasilkan dan memilih aksi yang akan dihasilkan  dimana pilihan aksi ini dihasilkan saat proses langkah pembuatan dan analisa aksi yang sesuai bagi pengambilan keputusan, the last of course AKSI anda!.

Ingat filososi Bumerang ini, ‘hati2 melangkah kawan, karena setiap langkah anda, maju atau mundur merupakan pilihan hidup anda’

Published in: on 26 June 2008 at 8:56 pm Leave a Comment
Tags:

Konspirasi Birokrasi Tai Kucing

Kenapa sih selalu disebut ‘Lawan-lawan politik’, bukankah berkawan lebih baik dan sebut saja, ‘kawan-kawan politik, karena didunia satu itu tidak ada kawan. Politik merupakan bagaimana kita memanfaatkan momentum yang ada. Saat momentum itu kita temukan dalam lubang sempit sarang ular atau dalam bau busuk kotodan di dalam tong sampah yang karatan, tidak akan pernah terduga bahwa kawan kita esok hari akan melawan kita. Tidak akan pernah terduga! saat sekarang kita bersulang berdua dan esok hari saat mentari pagi bersinar dan burung-burung gereja bersenandung menyambut pagi, anda akan mendengar dan terkejut seketika saat melihat berita pagi headline news bahwa teman anda kemarin telah membocorkan rahasia penting misi politik anda. WaspadalaH!

Birokrasi,, cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban, serta menurut tata aturan (adat dan sebagainya) yang banyak liku-likunya dan sebagainya. Tidak ada kata efisien bagi pegawai pemerintah, selain hanya terdengar kata biaya administrasi yang bertingkat, berjenjang dan berlevel selayaknay program Wajib Blajar yang didengungkan pemerintah jaman dahulu, berjenjang hingga 9 tahun. Persis sama dengan proses hebat di pemerintahan dengan kode sandi biaya administrasi, bila anda menerima sial bisa sampai 9 tingkatan ke atas. Keren bukan!

Penyebab terbesar dari satu atau serangkaian peristiwa yang seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh dan tentu saja sangat terahasia. Merupakan sebuah Teori Konspirasi umum. Samakah Dengan Kolusi. Sedangkan Kolusi bisa dibilang kerjasama antar beberapa orang individu atau organisasi untuk tujuan dan kepentingan bersama. Sama atau tidak, bukan jadi permasalahan, yang pasti keduanya mengusung tujuan tertentu, untuk kepentingan tertentu, meraih keuntungan dan juga pastinya ada pihak yang akan dirugikan. Banyak teori konspirasi yang mengklaim bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah telah didominasi oleh para konspirator belakang layar yang memanipulasi kejadian-kejadian politik. Trus bagaimana jika ANDA sendiri yang menjadi korban konspirasi Birokrasi Para Penguasa yang Sak Kareppe dhewe? Apa yang akan ANDA Lakuakan? anda mau ke JAM pidsus? MUSTAHIL!!! mereka juga tersandung masalah. Di negeri yang indah ini, melawan birokrasi dengan hukum tidak akan pernah bisa anda menangkan. Karena hukum yang ada pun tidak akan pernah menjamin keselamatan anda. Lagi2, Lindungi diri anda sendiri, tidak ada satu pun organisasi di negeri ini yang bisa menjamin hidup anda selamat, hidup dengan tenang dan membina keluarga yang bahagia.

Next, bagaimana bila birokrasi yang sudah sama sekali mendapatkan keraguan publik, lambat laun mencoba bangkit. Birokrasi dimana cemoohan bertubi-tubi di dapat, dan ANDA sendiri tak mau ikut campur dalam lingkaran setan tuk mengolok2nya juga. Birokrasi dimana terobosan2 dihasilkan yang hasilnya hanya dirasakan beberapa golongan tertentu saja. Birokrasi yang sak kareppe dhewe, sak enake udhele, membuyarkan mimpi2 ANDA, menjegal cita2 ANDA, menghapus janji2 yang telah terucap, menghentikan rencana masa depan ANDA, meremukkan HATI ANDA!!!.

Pertanyaan yang muncul, ‘Bagaimana bisa orang sekejam itu?’. Sebuah konspirasi yang di dalangi diri sendiri sebagai individu dengan perencanaan yang sudah lama dibuat untuk ANDA.

Seharusnya ANDA merasa senang karena birokrasi memerhatikan ANDA, takut pada ANDA, dan mungkin saja masih membutuhkan sentuhan manis dari ANDA.

Tapi sayangnya fokus bukan disitu saja. Tapi akan keTIDAKADILan yang dibuat secara sengaja untuk tujuan pribadi, sebuah keEGOan yang besar, ambisi untuk mengalahkan yang lain, merasa berkuasa, dan ingin selalu di dengarkan dan di patuhi serta tentu saja di takuti, karena POWER yang Birokrasi punyai.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? karena hal ini bukan hanya sebuah fatamorgana kehidupan atau aurora yang muncul di kutub. Tapi ini adalah sebuah lenovo affair yang terwujud dalam skala layaknya badan koperasi di dalam unit pedesaan.

Dua kemungkinan yang selalu ada seperti sebuah mata uang koin. Anda memilih kepala atau gambar burung. Pilih mana, karena hal itu akan menjadi pilihan keputusan ANDA yang terbesar. Satu sisi menawarkan sikap pemberontakan yang ekstrim, Hajar! atau anda akan mati duluan tapi disisi lain ditawarkan solusi yang lebih lunak, kooperatif, layani dia (atau bisa sangat buruk dan menjijikkan, jilat dia!), lakukan apa kemauan dia, lebih pahami dan secara naluri cari keuntungan bagi ANDA sendiri.

Dan katakan, “ini POLITIK kawan”

Published in: on at 10:32 am Comments (2)
Tags: ,

Ms Project 2003

Ms Project 2003

Buku Microsoft Project 2003 oleh Cornelius Trihendradi yang diterbitkan ANDI Yogyakarta selalu menemaniq pada awal-awal proses TAq yg skr mengalami kegagalan perencanaan. Tenang bos!, jangan gundah gelisah gitu dunk pak, bukan karena buku anda koq, karena faktor teknis yang lain. Klaim ‘Langkah cerdas Merencanakan, Menjadwalkan dan Mengontrol Proyek’ yang dicetak disampul depan buku ini mank bisa diperhitungkan. He3..Buku ini q dapat (hmm…sebenarnya sih pinjem) dari tetangga kamar kosq yang sekarang dah kerja di Sumbawa, sebuah perusahaan kontraktor alat-alat berat, Traxindo. (he3..dia marah2 klo q gak ngerti perusahaannya tu pa, wah sory!). Trims bro ya, dah minum susu kuda binal belum Loe?.

Diawali dengan pengertian tentang Manajemen Proyek, Pemakaian Microsoft Project 2003 dan keterkaitannya dengan siklus hidup proyek. Lalu secara sederhana dan mudah dimengerti sedikit demi sedikit dalam setiap bab-nya memuat fase-fase dalam proyek seperti Perencanaan, Penjadwalan, Pengorganisasian, dan Pengontrolan. Buku yang pas banget untuk pemula sejati. Jadi inget waktu temen gw beli buku ini, q cuman ketawa aja, haiyah buat apa jurusan kapal pake buku itu. He3, ternyata buku ini sekarang gw bawa dan mank bermanfaat juga. Memang Tuhan membuat perjalanan ini sungguh Misterius. Seperti halnya nilai RKSIq yang mendapat D dan tidak dapat q perjuangkan lagi dan membuat rencana-rencanaq gagal total!, Lulus semester ini pun sirna sudah. Tahukan engkau kawan siapa orang yang membuat nilaiq D, tak lain dan tak bukan adalah Dosen Pembimbing TAq sendiri dan sekaligus Kajur jurusanq. (wah!, jadi curhat aq, next time aja in previously topic ja, ok brur..)

Published in: on 21 June 2008 at 12:49 pm Leave a Comment
Tags: