Mungkin dunia ini memang dipenuhi dengan orang-orang jahat dan gila, dimana orang-orang ini bisa jadi sangat membahayakan manusia sekitarnya. Namun yang jelas, ada jenis orang-orang jahat dan gila tertentu yang lebih berbahaya ketimbang jenis biasa. Orang-orang ini memang tidak kelihatan jahat atau gila sama sekali di hadapan manusia, sehingga bahaya mereka menjadi samar bahkan tidak tampak sama sekali. Tidak hanya terbatas pada manusia sekitarnya saja, melainkan juga melebar pada komunitas lain yang berjauhan jarak. Mereka inilah anak-anak Adam yang paling membahayakan bagi anak Adam lainnya. Merekalah orang-orang gila yang lihai.
Orang-orang gila yang bebas berkeliaran ini sering mengelabui umat. Di mata masyarakat mereka adalah figur-figur yang terhormat. Mereka diberi kepercayaan dan amanat mengendalikan urusan rakyat. Merekalah yang membawa umat manusia pada kehancuran dan kebinasaan.
Sosok-sosok inilah yang biasa kita sebut ‘pemimpin’ dan ‘pejabat’. Kupikir tidak ada komunitas manusia dimanapun yang lepas dari cengkraman kekuasaan orang-orang gila ini. Mereka biasanya akan saling sikut dan menjatuhkan, hanya untuk mencapai apa yang mereka sebut ‘kekuasaan’. Mereka selalu membangun konflik-konflik baru demi menyenangkan ambisi atau memenuhi kegilaan segelintir oknum yang menginginkan keruwetan-keruwetan demi kepentingan sendiri, namun dengan dibungkus kedok-kedok kasih sayang dan alasan-alasan palsu. Di tingkat bawah, rakyat yang mereka pimpin pun akhirnya bersitegang dan beradu fisik, akhirnya meletuslah konflik antar massa. Dan di sini, yang menjadi korban rakyat yang tidak berdosa, seolah mereka adalah kayu bakar di atas tungku pembakaran yang harus selalu menyala dan membara. Di sana-sini, orang-orang gila ini harus bersedekap laksana badut, menyaksikan pembantaian umat manusia. Mereka ayik menonton rakyat yang saling membunuh satu sama lain. Jika tontonan mereka mulai agak lesu, mereka pun akan berteriak memberi semangat dan menghasut, “Kamu akan celaka bila musuhmu tidak kau celakai”, orang-orang gila ini menipu rakyat dengan cara yang sangat halus, hingga tak seorang pun sampai sekarang ini mampu membuka kedok penipuan, kecurangan dan makar mereka. Mereka mengkampanyekan apa yang mereka sebut-sebut dan dewakan sebagai ‘nasionalisme’, sebuah paham kebangsaan yang berkiblat pada kebanggan semu suku sendiri, sehingga melahirkan sikap mau menang sendiri dan selalu turut campur dalam urusan suku atau kelompok lain. Nasionalisme merupakan bencana terkeji bagi umat manusia dalam pertumpahan darah dan peperangan yang maha biadab. Nasionalisme dalam pemahaman sempit ini merupakan bentuk ke-aku-an kelompok yang mehalalkan kekejaman dan kesadisan. Dimana, satu kelompok mengklaim diri mereka lebih baik dibanding kelompok lain. Mereka harus menjadi yang pertama dan terdepan dalam soal-soal hidup, kemakmuran keduniaan dan kemajuan harta benda. Mereka tidak mempedulikan apakah umat lain bisa mencicipinya atau bahkan jika perlu tidak mengenyamnya sama sekali.
Ya, ke-aku-an terjadi ketika seseorang selalu ingin berkata, “aku duluan”. Dan nasionalisme disini adalah jika suatu kelompok ngotot mengatakan, “Kami duluan”. Inilah bibit dari segala konflik dan pertumpahan darah. Karena setiap kelompok berambisi untuk mencicipi lebih banyak kue kemakmuran duniawi. Maka, yang kuat pun mencaplok yang lemah, dan yang kuat inipun akan saling jotos dengan yang kuat pula. Terjadi benturan kepentingan, lalu lahirlah perpecahan dan peperangan.
Itulah Nasionalisme, yang sering dipuja manusia sebagai sistem terbaik yang harus mereka pilih dan terapkan dalam kehidupan. Namun, jika manusia sadar, pasti akan tahu, tidak ada yang membawa umat manusia kepada bencana kehancuran yang lebih buruk daripada nasionalisme sempit ini. Andaikata mau membuka mata hati, manusia akan tersadar, mereka sebenarnya mampu menggapai tingkat kesempurnaan hidup yang lebih tinggi jika saja mampu mencabut dari dirinya apa yang dinamakan sebagai ‘nasionalisme’ ini. Lalu sebagai gantinya, mereka bisa menanamkan semangat ‘persaudaraan semesta’ yang mendudukkan dunia sebagai satu tanah air, serta menganggap anak Adam lain sebagai layaknya anak Adam, apapun ras dan bangsanya. Dengan ideologi ini dan hanya dengan inilah, dunia akan terbebas dari kejahatan dan kebiadaban perang.
Tapi, apa kamu pikir orang-orang gila yang memimpin bangsa-bangsa di dunia ini akan begitu saja menerima dan melapangkan jalan bagi pengembangan semangat persaudaraan semesta ini? Bagaimana nasib jabatan dan kedudukan mereka sebagai pemimpin?
Sumber : “Izrail” by “Yusuf As Siba’i”
