Makhluk Hibrida dan Punggung

Kucoba semua segala cara
Kau membelakangiku
Kunikmati bayangmu
Itulah saja cara yang bisa
Untukku menghayatimu
Untuk mencintaimu

Sesaat dunia jadi tiada
Hanya diriku yang mengamatimu
Dan dirimu yang jauh di sana
Ku takkan bisa lindungi hati
Jangan pernah kau tatapkan wajahmu
Bantulah aku semampumu

hhttp://nyonyim.multiply.com/journal/item/12/punggungmu_saja Mar 16, ‘08 5:38 AM
rame sekali, jarang-jarang serame ini

waktunya keluar dari sini,,
lalu aku berjalan ke luar pelan-pelan,,

ku sempatkan liat ke arah keramaian tadi
aku melihatmu berjalan ke arahku,,
entah kmu sadar ato tidak ada aku
cepat-cepat ku berpaling,,
seseorang menyuruhku duduk sebentar

belum sempat aku duduk,,
kamu mendahuluiku,,
aku cuma melihatmu,,
punggungmu saja,,
berjalan menjauh,,
sampai hilang dari pandangan,,

ada perasaan menyesak ato menyesal gak tau apa itu,,
hinggap saat itu,,,
aku tidak mau duduk,,

(Rasakanlah)
Isyarat yang sanggup kau rasa
Tanpa perlu kau sentuh
(Rasakanlah) Harapan, impian
Yang hidup hanya untuk sekejap
(Rasakanlah) Langit, hujan
Detak, hangat nafsuku

(Rasakanlah)
Isyarat yang mampu kau tangkap
Tanpa perlu ku ucap
(Rasakanlah) Air, udara,
Bulan, bintang,
Angin, malam,
Ruang, waktu, puisi

“Rectoverso” “Hanya Isyarat” “Dee”
Tinggal 4 manusia yang tersisa di tempat yang didesain dengan penerangan buruk malam ini. Remang yang tidak romantis, dan hiburan yang tersedia hanyalah TV 14 inci dengan tayangan pertandingan sepakbola dini hari disertai kumandang disko era satu dekade silam. Tapi ada satu yang menarik, yaitu dia. Dan dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuanku bertahan disini.

Satu-satunya betina yang menguapkan feromon disekumpulan makhluk jantan. Sejak hari pertama kami semua berkenalan mereka malas menggubrisku karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari mulutku, dan aku tetap menyandang status hanya sebagai ‘kenalan’.
Andai ada pintu masuk di situ, akan kuselundupkan setengah bahkan tiga perempa jiwaku untuk merasukinya, untuk membaca pikirannya, memata-matai pikirannya.

Aku teringat trotoar tempat kami berjalan dan kakinya yang ku biarkan melangkah beberapa meter di depan, aku teringat siluet punggungnya yang menghadap panggung di tempat yang kami kunjungi sebelum ini, aku teringat kehidupanku beberapa hari yang lalu sebelum bertemu dengannya, aku teringat kemana aku harus kembali setelah malam ini, dan kemana ia pergi nanti.

Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.


tidak….jangan….jangan pernah duduk Lagi…tapi berLARILah mengejarnya….berJANJILah…tepuk bahunya dan SAPALAH dia…hanya sekaLi saja….ya…..sekaLi saja….

Dengarkanlah kisahnya. Baca musiknya. Selami ilustrasinya. Dan temukan magisnya menyusuri sungai kreativitas yang bermuara pada laut inspirasi yang sama. Musik, kisah, gambar, bahkan saat membcarakan satu hal yang sama, setiap not, irama, rima dan garis, akan menyajikan keunikan dan perbedaan yang tak perlu dipertentangkan. Cukup diapresiasi. Dinikmati. Melengkapi.
Dan terakhir, bagi kehidupan, dalam berbagai wujud dan rupa, dan juga dalam yang tak berwujud dan berupa…inilah noktah, yang meski mungil tapi tak pernah luput Engkau beri makna.

Itulah saja cara yang bisa
Untuk menghayatimu
Untuk mencintaimu

Sumber : “Rectoverso” “Dee” dan,
from www.nyonyim.multiply.com on “punggungmu saja”

Rectoverso

Published in:  on 2 January 2009 at 3:29 am Comments (10)
Tags: , , , ,