RSS

Monthly Archives: March 2011

Anatomi KPR subprime (subprime mortgage)

Pascadepresi tahun 1930-an subprime mortgage memang didesain bagi sekelompo masyarakat yang memiliki kemampuan financial yang kurang memadai (non bankable) dalam memperoleh pinjaman kredit perbankan (kelas menengah kebawah). Subprime mortgage sudah ada sejak tahun 1938 sejak berdirinya Federal National Mortgage Association (FNMA) atau lebih terkenal dengan sebutan Fannie Mae. Sejak awal sebagai hybrid product, subprime mortgage dianggap memiliki resiko yang lebih tinggi ketimbang KPR komersial lainnya. Untuk mencegah kerugian bagi perbankan yang terlibat dalam KPR subprime, pemerintah AS memberikan skema perlindungan. Melalui Federal Housing Administration (FHA) yang dibentuk berdasarkan Undang-undang perumahan (National Housing Act) tahun 1934 ada asuransi bagi lender (perbankan) terhadap kemungkinan default peminjam. Belakangan skema itu tidak ada lagi. KPR subprime ini sebetulnya mirip dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dikembangkan oleh pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atau seperti Kredit Tanpa Agunan/Jaminan saat pemerintahan Megawati Soekarno Putri. Yaitu kredit untuk kelompok yang non-bankable. Untuk melindungi perbankan KUR diikutkan skema penjaminan Askrindo di mana pemerintah ikut membayar premi penjaminannya. KPR subprime mengalami booming pada era 2000-2005 dan mencapai 605 milyar dolar AS pada tahun 2006 (10% dari total KPR Amerika) atau tumbuh hampir lima kali lipat dari tahun 2001. Booming ini ditopang oleh rendahnya tingkat sukubunga perbankan sejak tahun 2001-2005. KPR subprime ini juga diciptakan beragam produk keuangan turutannya atau derivarives sebagai berikut: Pertama, pihak bank menjual KPR subprime-nya kepada lembaga keuangan yang disponsori pemerintah (government sponsored enterprises) di bidang perumahan seperti bila di AS adalah Fannie Mae dan Freddie Mac., perusahaan-perusahaan terbesar di AS. Kedua, oleh kedua perusahaan ini, KPR subprime tersebut disekuritisasi atau dijadikan lagi surat berharga dengan cara menerbitkan instrument utang derivatives bernama Mortgage Backed Securities (MBS) atau surat berharga dengan jaminan sertifikat rumah. Ketiga, Sejumlah MBS dibeli oleh investment banks seperti Lehman Brothers, Morgan Stanley, UBS, HSBC dan bank-bank lainnya. Keempat, Berbagai investment bank kemudian melakukan sekuritisasi atau menjadikan lagi surat berharga baru atau sekuritisasi atas sekuritisasi dari MBS dengan menerbitkan lagi derivative baru bernama Collateralized Debt Obligation (CDO). Kelima, Langkah sekuritisasi ini terus berlanjut dengan menghasilkan derivative baru dari CDO yaitu Synthetic CDO atau Credit Link Note (CLN). Kesemua produk derivatives ini dijual dan diperdagangkan di seluruh pasar keuangan di Amerika dan di beli oleh investor di seluruh dunia. Jadi Tuguhan bahwa krisis keuangan yang terjadi belakangan ini disebabkan oleh krisis subprime mortgage adalah salah besar. Justru kegagalan otoritas moneter Amerika dalam menegakkan disiplin pasar keuangan alias mengatur ulah spekulan untuk mengamankan underlying transaction di sektor perumahan serta diperbolehkannya penciptaan instrument berlapis yang spekulatif dan jauh dari kaidah lindung nilai (hedging) inilah yang menjadi akar persoalan krisis keuangan di AS dan dunia saat tahun 2008.

Sumber : Hancurnya Neo Kapitalisme dan Neo Liberalisme oleh Theo F. Toeminon
Dan Sunarsip, Indonesian Economic Intelligence, Bisnis Indonesia, 1 November 2008.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 12 March 2011 in Master Degree Stuff

 

Tags: , , , ,

Keserakahan Holding Company

Perusahaan induk (Inggris: holding company)

Pengertian :

  • perusahaan yang menjadi perusahaan utama yang membawahi beberapa perusahaan yang tergabung ke dalam satu grup perusahaan. Melalui pengelompokan perusahaan ke dalam induk perusahaan, dimungkinkan terjadinya peningkatan atau penciptaan nilai pasar perusahaan (market value creation).
  • Suatu gabungan atau susunan dari perusahaan-perusahaan yang secara yuridis mandiri, yang terkait satu dengan yang lain begitu erat sehingga membentuk suatu kesatuan ekonomi yang tunduk pada suatu pimpinan dari suatu perusahaan induk sebagai pimpinan sentral
  • Public utility act:
  • Perusahaan yang memiliki/mengawasi atau mempunyai kekuasaan untuk memeberikan suara sebanyak 10% dari suatu perusahaan public
  • Suatu perusahaan yang berada pada posisi mengontrol perusahaan lain dengan dasar kepemilikan saham pada perusahaan lain tersebut.
  • suatu perusahaan yang bertujuan untuk memiliki saham dalam satu atau lebih perusahaan lain dan/atau mengatur satu atau lebih perusahaan laintersebut.

Unsur penting dari suatu konsern :

  • Ada kesatuan dari sudut ekonomi
  • Ada jumlah jamak secara yuridis

Proses hokum pembentukan perusahaan holding :

Prosedur residu :

  • Dalam prosedur residu,perusahaan asal dipecah-pecah sesuai dengan masing-masing sector usaha.

Keterangan Diagram:X :

Perusahaan asalXi : Bagian dari bisnis perusahaan asat yang tidak pertudimandirikan.

X2 : Bagian dari bisnis perusahaan yang pertu dimandirikan

P, Q, R : Pecahan dari perusahaan X2 yang sudah mandiri

A, B, C : Perusahaan yang tetah tertebih dahulu ada, tetapi dengankepemilikan yang sama/berhubungan dengan pemilik X, dansahamnya akan dialihkan ke X.

X3 : Perusahaan holding yang terbentuk akibat proses residu

Prosedur penuh :

  • Masing-masing perusahaan dengan kepemilikan yang sama/berhubungan saling terpencar-pencar,tanpa terkonsentrasi dalam suatu perusahaan holding
  • Yang menjadi perusahaan holding bukan sisa dari perusahaan asal tetapi perusahaan penuh dan mandiri

Keterangan Diagram:

A, B, C, D : Perusahaan-perusahaan dengan kepemilikan yang samalsaling berhubungan.

X : Perusahaan baru dibentuk yang dipersiapkan untukmenjadi perusahaan holding.

Y : Perusahaan lain dengan kepemilikan yang berbeda/tidaksaling berhubungan.: Saham perusahaan anak yang dipegang oleh perusahaanholding.

Tipe A : tipe pembentukan perusahaan baru

Tipe B :Tipe pengambitan perusahaan yang sudah ada tetapi masihdalam kepemilikan yang sama atau saling berhubungan.

Tipe C :Tipe pengakuisisi terlebih dahulu perusahaan yang sudahada dan dengan kepemilikan yang berlainan/tidak saling berhubungan. 5

Prosedur terprogram

  • Dari awal perusahaan yang pertama kali didirikan adalah perusahaan holding
  • Untuk setiap bisnis yang dilakukan, akan dibentuk atau diakuisisi perusahaan lain

Keterangan Diagram

A : Calon Perusahaan Holding

A1 : Perusahaan Holding

B,C,D : Perusahaan baru dibentuk (Anak Perusahaan )

x, Y, Z : Perusahaan lain dengan kepemilikan yang berbeda/tidaksaling berhubungan.

B, C, 0 : Memegang saham dari awal terbentuk perusahaan.

X, Y, Z : Pemegang saham secara akuisisi.

Keuntungan perusahaan holding :

  • Kemadirian resiko
  • Hak pengawasan yang lebih besar
  • Pengontrolan yang lebih mudah dan efektif
  • Operasional yang lebih efisien
  • Kemudahan sumber modal
  • Keakuratan keputusan yang diambil

Manfaat pembentukan holding :

a. Mendorong proses penciptaan nilai (market value creation) dan value enhancement

b. mensubstitusi defisiensi manajemen pada anak-anak perusahaan

c. mengkoordinasikan langkah agar dapat akses ke pasar internasional

d. mencari sumber pendanaan yang lebih murah

e. mengalokasikan kapital dan melakukan investasi yang strategis

f. mengembangkan kemampuan manajemen puncak melalui cross-fertilization.

Prinsip tanggung jawab suatu badan hukum :

  • Prinsip keterbatasan tanggung jawab
  • Secara prinsipil, setiap perbuatan yang dilakukan oleh badan hokum ,maka hanya badan hokum sendiri yang bertanggungjawab

Perluasan tanggung jawab pemegang saham :

  • Perluasan tanggung jawab perusahaan holding berdasarkan peraturan perUUngan
  • Perluasan tanggung jawab perusahaan holding berdasarkan ikatan kontraktual.

Ciri/unsur : Secara ekonomi ada kesatuan, secara yuridis jumlah jamak

Faktor Penentu : Pemilikan Saham ,Perjanjian, Faktor Faktual.

Dalam dunia bisnis, kehadiran holding company merupakan sesuatu yanglumrah, mengingat banyak perusahaan yang telah melakukan kegiatan bisnis yangsudah sedemikian besar dengan berbagai garapan kegiatan, sehingga perusahaan ituperlu dipecah-pecah menurut penggolongan bisnisnya. Namun dalam pelaksanaankegiatan bisnis yang dipecah-pecah tersebut, yang masing-masing akan menjadiperseroan terbatas yang mandiri masih dalam kepemilikan yang sama denganpengontrolan yang masih tersentralisasi dalam batas-batas tertentu; artinyawalaupun perusahaan tersebut telah dipecah-pecah dan menjadi perseroan terbatastersendiri; tidak otomatis terpisah mutlak dari perusahaan holding.Untuk itu pecahan-pecahan perusahaan tersebut bersama-sama denganperusahaan-perusahaan lain yang mungkin timbul telah terlebih dahulu ada, denganpemilik yang sama atau minimal ada hubungan khusus, dimiliki atau dikendalikansuatu perusahaan yang mandiri pula yaitu holding company tersebut.

 

Sumber : wikipedia, dan

HASIM PURBA, SH, TINJAUAN TERHADAP HOLDING COMPANY,TRUST, CARTEL, DAN CONCERN, dan

Kuliahade’s Blog

 
1 Comment

Posted by on 11 March 2011 in Master Degree Stuff

 

Tags: , ,