RSS

Tag Archives: mortgage subprime

Anatomi KPR subprime (subprime mortgage)

Pascadepresi tahun 1930-an subprime mortgage memang didesain bagi sekelompo masyarakat yang memiliki kemampuan financial yang kurang memadai (non bankable) dalam memperoleh pinjaman kredit perbankan (kelas menengah kebawah). Subprime mortgage sudah ada sejak tahun 1938 sejak berdirinya Federal National Mortgage Association (FNMA) atau lebih terkenal dengan sebutan Fannie Mae. Sejak awal sebagai hybrid product, subprime mortgage dianggap memiliki resiko yang lebih tinggi ketimbang KPR komersial lainnya. Untuk mencegah kerugian bagi perbankan yang terlibat dalam KPR subprime, pemerintah AS memberikan skema perlindungan. Melalui Federal Housing Administration (FHA) yang dibentuk berdasarkan Undang-undang perumahan (National Housing Act) tahun 1934 ada asuransi bagi lender (perbankan) terhadap kemungkinan default peminjam. Belakangan skema itu tidak ada lagi. KPR subprime ini sebetulnya mirip dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dikembangkan oleh pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atau seperti Kredit Tanpa Agunan/Jaminan saat pemerintahan Megawati Soekarno Putri. Yaitu kredit untuk kelompok yang non-bankable. Untuk melindungi perbankan KUR diikutkan skema penjaminan Askrindo di mana pemerintah ikut membayar premi penjaminannya. KPR subprime mengalami booming pada era 2000-2005 dan mencapai 605 milyar dolar AS pada tahun 2006 (10% dari total KPR Amerika) atau tumbuh hampir lima kali lipat dari tahun 2001. Booming ini ditopang oleh rendahnya tingkat sukubunga perbankan sejak tahun 2001-2005. KPR subprime ini juga diciptakan beragam produk keuangan turutannya atau derivarives sebagai berikut: Pertama, pihak bank menjual KPR subprime-nya kepada lembaga keuangan yang disponsori pemerintah (government sponsored enterprises) di bidang perumahan seperti bila di AS adalah Fannie Mae dan Freddie Mac., perusahaan-perusahaan terbesar di AS. Kedua, oleh kedua perusahaan ini, KPR subprime tersebut disekuritisasi atau dijadikan lagi surat berharga dengan cara menerbitkan instrument utang derivatives bernama Mortgage Backed Securities (MBS) atau surat berharga dengan jaminan sertifikat rumah. Ketiga, Sejumlah MBS dibeli oleh investment banks seperti Lehman Brothers, Morgan Stanley, UBS, HSBC dan bank-bank lainnya. Keempat, Berbagai investment bank kemudian melakukan sekuritisasi atau menjadikan lagi surat berharga baru atau sekuritisasi atas sekuritisasi dari MBS dengan menerbitkan lagi derivative baru bernama Collateralized Debt Obligation (CDO). Kelima, Langkah sekuritisasi ini terus berlanjut dengan menghasilkan derivative baru dari CDO yaitu Synthetic CDO atau Credit Link Note (CLN). Kesemua produk derivatives ini dijual dan diperdagangkan di seluruh pasar keuangan di Amerika dan di beli oleh investor di seluruh dunia. Jadi Tuguhan bahwa krisis keuangan yang terjadi belakangan ini disebabkan oleh krisis subprime mortgage adalah salah besar. Justru kegagalan otoritas moneter Amerika dalam menegakkan disiplin pasar keuangan alias mengatur ulah spekulan untuk mengamankan underlying transaction di sektor perumahan serta diperbolehkannya penciptaan instrument berlapis yang spekulatif dan jauh dari kaidah lindung nilai (hedging) inilah yang menjadi akar persoalan krisis keuangan di AS dan dunia saat tahun 2008.

Sumber : Hancurnya Neo Kapitalisme dan Neo Liberalisme oleh Theo F. Toeminon
Dan Sunarsip, Indonesian Economic Intelligence, Bisnis Indonesia, 1 November 2008.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 12 March 2011 in Master Degree Stuff

 

Tags: , , , ,